Follow Us @soratemplates

Kamis, 04 Januari 2018

Resep Cokelat Durian Ala Rumahan

08.07 0 Comments
Tahun baru memang sudah terlewat namun riuhnya masih terasa hingga saat ini. Melewati tahun baru rasanya kurang lengkap tanpa yang manis manis bukan? Apalagi manisnya kenangan, deuh... *digeplak*.

Kembali ke benang merah.

Postingan kali ini saya akan berbagi resep cokelat isi durian yang beberapa minggu terakhir sudah berhasil diuji kelarisannya. Tidak perlu khawatir mengenai higienis atau tidaknya, karena resep ini bisa dicoba di rumah, di kontrakan, di rumah pacar atau mertua. Bahannya pun juga mudah ditemukan. Terlalu mainstream kalau cokelat rasa cabe, cokelat isi kacang, cokelat pemberian mantan. Mari simak resep berikut ini :

dok.pri

Bahan :
Cokelat batangan 250g
Durian
Air

Alat :
Cetakan
Rantang stainless
Panci
Sendok

Cara pembuatan :
1. Lelehkan cokelat ke dalam panci yang sudah berisi air. Air bisa disesuaikan keinginan/secukupnya.
2. Tunggu beberapa menit hingga cokelat benar - benar meleleh dan mengental sambil diaduk-aduk.
3. Matikan kompor dan angkatlah rantang yang berisi cokelat. Jangan lupa siapkan cetakannya juga.
4. Sebelum cokelat dimasukkan cetakan, durian yang sudah disiapkan, pisahkan dari bijinya dan dibentuk bulat kecil untuk isi.
5. Masukkan cokelat ke dalam cetakan dengan setengah porsi cetakannya. Kemudian durian diletakkan di atasnya sebagai isi.
6. Tuang kembali cokelat tersebut hingga penuh dan menutupi isi (durian) dan lanjutkan hal yang sama sesuai jumlah cetakan.
7. Apabila cetakan sudah penuh, diamkan cokelat kurang lebih 15menit atau bisa juga dimasukkan ke dalam kulkas.
8. Cokelat yang sudah mengeras siap dilepas dari cetakan dan dihidangkan.

Proses cokelat meleleh
Cetakan cokelat
Taraaaaa... Siap dimakan

Sajian ini terasa nikmat jika disajikan dalam keadaan dingin yang baru keluar dari kulkas. Kenapa? Cokelat mudah lembek apabila dibiarkan di suhu normal. Bagaimana sudah tertarik? Semoga resep ini bermanfaat dan selamat mencoba~

Rabu, 27 Desember 2017

Terimakasih 2017

08.59 2 Comments
dok.pri.

Menuju tahun 2018 hanya tinggal menghitung hari saja. Menyambut tahun baru yang penuh teka-teki patut dilewati dengan beragam sukacita.
Rencana berlibur atau sekedar berkumpul dengan keluarga atau orang terdekat pastinya sudah dibicarakan jauh jauh hari bahkan sampai sebulan, dua bulan, tiga bulan (cukup!) sebelumnya.

Sebelum datangnya malam pergantian tahun 2017 ke 2018, masihkah ada harapan yang belum tercapai? Adakah deretan resolusi yang dicatat namun berbalik arah? Atau sudah cukupkah dengan limpahan nikmat yang tak terduga?

Perjalanan selama setahun ini memang cukup menarik bagi saya. Begitu banyak nikmatNya yang didapatkan, seringkali membuat saya lupa mengucap syukur. Banyak pilihan yang membuat saya sadar bahwa semua rencana atau yang digariskan olehNya pasti ada hikmahnya.

Pergantian malam tahun 2017 berbekal tangga kayu yang hampir lapuk demi melihat kembang api di langit Jogja. Malam itu bisa jadi malam yang paling absurd untuk merayakan tahun baru dari tahun tahun sebelumnya. Di atas genteng kami (saya dan dia) melewati malam itu. Hahaha. Alasan yang cukup mendasar mungkin malas berdesakan di keramaian yang penuh harapan orang-orang. Dan alasan lainnya lebih baik menyimpan tenaga karena esok akan di kuras untuk piknik seperti biasa.

Ditahun ini sedikit dari harapan  sebelumnya sudah terwujud. Tuhan telah mendengar bisikan saya selama ini. Saya diberikan kesempatan untuk bekerja di perusahaan yang cukup terkenal. Pekerjaan dengan gaji berlipat-lipat dari pekerjaan sebelumnya ternyata tidak sebahagia seperti mendengar atau membaca kata 'gaji berlipat-lipat'. Pekerjaan yang mengizinkan saya bertemu dengan teman teman yang tahan banting dan mampu bertahan dengan pekerjaan yang pernah menjadi daftar untuk dihindari. Dan pada akhirnya memutuskan untuk berhenti (bukan menyerah) sesuai kontrak perjanjian.

Di tahun ini pun saya memutuskan untuk berhijab, sebuah proses yang diperlukan kesiapan mental yang benar-benar kuat dan matang. Keinginan bertahun-tahun yang seringkali tergeser. Doa saya, semoga Tuhan mengkokohkan iman saya dan selalu menunjukkan jalan yang benar.

Di tahun ini pula saya berhasil melewati hari-hari bersama dia. Tiga tahun rasanya sungguh tidak disangka sangka. Perjalanan dua orang yang pernah sama-sama menelan pahit untuk kali pertama. Yeaaay... We're the winner! Once again... Terimakasih sudah menjadi tawa, rindu, dan bulir air mata serta macam macam rasa.

Dan... Terimakasih Semesta!

2018. Saya percaya lebih, lebih dan lebih mampu dari tahun tahun sebelumnya. :)))

Rabu, 20 Desember 2017

#3

06.11 1 Comments
Capture by Evinta

Tiga tahun sudah berlalu,
Kenyataan yang tidak disangka bahwa sejauh ini kita melangkah. Satu langkah untuk saling menguatkan, terkadang rasa ingin menyerah mencoba menghampiri.

Tiga tahun sudah berlalu,
Sebuah babak baru yang kita capai untuk kali pertama. Sebuah perjalanan yang tak pernah mudah dilalui meski jarak sebagai penengahnya.

Tiga tahun sudah berlalu,
Banyak hal yang patut disyukuri dan dijadikan bahan pembelajaran. Seperti halnya kesempatan bagi saya untuk (selalu) belajar memantaskan diri walaupun diam-diam sering membandingkan dengan perempuan lain.

Terimakasih untuk tawa, kesabaran, temu, rindu, perhatian, kasih sayang, dan tangis bahkan kekecewaan yang kamu hadirkan.

Terimakasih untuk segala usaha dan kerelaan demi kebahagiaan saya. Berharap di balik itu (usaha) tidak terselip rasa menyesal.

Terimakasih sudah mengajariku untuk melatih sabar, pengertian, memahamimu yang sesekali ego tidak ingin dikesampingkan.

Semoga untuk tiga tahun lebih tiga belas hari, aku masih pantas berjalan beriringan denganmu bukan hanya kemarin dan dihari ini saja. 


Satu dari deretan mimpi dan kebahagiaan


Senin, 13 November 2017

Yang Tak Sempat Terucap

08.46 0 Comments

Melihat tweet di atas membuat saya kembali mengingat satu masa yang terlewatkan. Seolah mesin waktu sedang berputar dengan sekejap menemukan keyword di dalam folder perjalanan hidup. Masa yang tidak terlepas dari titik hitam yang selalu membayangi. 

Seandainya mesin waktu benar benar diciptakan, saya akan maju di barisan paling depan dan berteriak dengan lantang untuk dibawa ke perjumpaan terakhir dan menyatu dalam kerumunan yang penuh duka. Enam tahun yang lalu. Cukup berada di samping beliau dan sesekali memegang tangan dan berbisik bahwa kita akan bertemu lagi di alam yang sesungguhnya. Hanya itu. :')

Ya.. Subuh kala itu merupakan pertanda beliau harus pulang ke pelukan Yang Maha Kuasa. Kepulangan yang menyisakan kenangan dan begitu menyesakkan dada. Kepergian yang bertepatan dengan hari dimana saya dituntut untuk bertanggungjawab penuh menyelesaikan tugas akhir sekolah. Sudah pasti sangat sangat dan sangat memecah konsentrasi. 

Tiga hari sebelum peristiwa itu beliau sempat hadir di mimpi dan maksud kedatangannya hanya menyampaikan pesan namun begitu sulit untuk mengeja detailnya. Pada akhirnya pesan yang hanya dianggap angin lalu dan lebih baik untuk disimpan sendiri. 

Enam tahun tidaklah mudah untuk saya lalui, kini hanya bisa mengenang beliau lewat deretan buku usang di pojok almari yang (dulu) hampir setiap hari beliau baca, secarik kertas dengan ciri khas tulisannya dan berisi point point yang akan disampaikan ke tamu undangan, selimut tenun berwarna hitam kecoklatan sebagai oleh oleh perjalanan ke Indonesia Bagian Timur, sesederhana percakapan dan tawa setiap pagi dan sore di meja dapur sekedar menikmati gorengan dan teh hangat. 

Banyak orang berkata bahwa orang baik akan berpulang dulu. Benar atau tidak adanya pernyataan tersebut, semoga saja rasa sakit yang melekat di raga beliau selama ini mungkin cara Tuhan untuk menghapus dosa-dosa sepanjang hidup. Semoga menjadi bukti bahwa beliau termasuk orang-orang yang berada dalam daftar pilihanNya untuk mendapatkan tempat terbaik. 

Aamiin. 

13 November sedang rindu-rindunya sama Mbah Kakung :")

Jumat, 03 November 2017

Belajar Street Photography sambil Ngopi #2 : Ngobrol Bareng Genpi

06.45 0 Comments
Demi mengejar likes atau menjadi lebih hits, butuh effort untuk mengedit foto agar terlihat menarik. Beragam aplikasi edit foto terpasang di menu smartphone meskipun kapasitas RAM hampir menipis. Aplikasinya mulai dari yang bisa meniruskan pipi hingga merubah wajah menjadi mulus tanpa noda sekalipun. Terkadang satu foto bisa menumpuk beberapa filter. Dan pastinya dibalik foto yang sempurna ada perasaan bangga dan senang. 

Berbicara mengenai foto, tidak lepas dari cara pengambilannya atau yang biasa disebut angle. Membutuhkan beberapa kali jepretan untuk menghasilkan foto yang kece dan siap diupload di media sosial. Alat yang digunakan pun juga menunjang dalam pengambilan gambar. Apalagi cahaya juga berpengaruh di dalamnya. 

Untuk menambah dan memperkuat ilmu fotografi, saya tertarik mengikuti acara yang diadakan oleh Genpi Jateng kemarin Jumat (27/10/2017). Acara kedua yang bertajuk Street Photography "Mengabadikan Cerita dengan Kamera" yang bertempat di Tekodeko Koffiehuis. Dari tema yang dipilih sudah pasti akan menarik tukang foto dengan berbagai senjatanya. Minder? Sedikit. Tapi bodo amat. Saya tetap menggenggam niat yang sudah dibungkus rapi dari rumah-mencari ilmu.

Yang membuat saya tertarik lagi, di acara ini tidak diwajibkan membawa kamera DSLR dan sejenisnya. Namun peserta boleh membawa kamera handphone juga. 



dok.pri. 


Speaker acara Ngopi #2 : Ngobrol bareng Genpi kemarin seorang fotografer company profile, Vega Viditama. Selain materi yang diberikan waktu Jumat sore minggu lalu, seluruh peserta diajak berkeliling Kawasan Kota Lama Semarang untuk hunting foto yang nantinya akan dibedah bersama. Berhubung hujan deras, kami diminta untuk bersabar dan mendengarkan penjelasan sedikit dari pemandu mengenai sejarah Kota Lama. FYI Taman Sri Gunting yang bersebelahan dengan Gereja Blenduk dulunya merupakan tempat pemakaman orang Belanda. Namun saat ini, tidak perlu cemas karena pemakaman tersebut sudah dipindahkan. Kini disulap menjadi Taman yang lumayan yoi untuk berteduh dan sedikit relax

Mas Vega Viditama dari kejauhan ehehe
dok.pri. 

Pemandu dan Mas Vega
dok.pri. 

Hujan nampaknya sudah bersahabat, and here we goooo.... Peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok A diberikan kesempatan untuk mengeksplore bagian Taman Sri Gunting dan sekitarnya selama 15 menit dan kelompok B menyusuri bagian Kepodang yang dulunya sering dijadikan tempat sabung ayam. Saya, masuk dalam kelompok B. Menurut pemandu (entah lupa namanya) lokasi Kepodang ini sering dijadikan destinasi utama wisatawan lokal maupun mancanegara bahkan fotografer juga. Di lokasi ini pernah dijadikan setting film Ayat Ayat Cinta lho. 

Memasuki lokasi Kepodang
dok.pri
dok.pri. 
dok.pri. 
Bu Widi in frame
dok.pri. 
dok.pri. 
Sisa sisa syuting film Ayat-Ayat Cinta
dok.pri. 


Setelah kami dibebaskan berkeliaran di Kepodang, waktunya bergantian mengeksplorasi bagian Taman Sri Gunting. Mungkin karena sudah kelelahan saya, Mba Wida, dan Bu Widi (kenalan baru di acara Ngopi #2) hanya duduk duduk di Taman sambil menunggu waktu yang ditentukan pemandu. Ehehe

Jam lima sore tepat, seluruh peserta kembali ke cafe. Beberapa dari peserta Ngopi #2 diminta untuk mengirimkan hasil foto ke email Mas Vega untuk dibahas bersama. Satu persatu hasil foto sudah terpampang di pojok tembok cafe yang berlantai dua ini. Menurut Mas Vega, Street Photography  memang susah susah gampang. Perlu kesabaran tingkat dewa untuk mendapatkan moment realnya.  Pengertian Street photography yang saya tangkap dari materi kemarin yaitu pengambilan gambar yang menunjukkan realitas yang terjadi tanpa dipose khusus.

Selesai membedah foto, peserta juga diedukasi cara mengedit foto menggunakan aplikasi Snapseed. Aplikasi tersebut terbilang ramai diunduh pengguna smartphone dan tidak banyak filter yang membuat foto tidak lebay editannya.

Yang membuat saya termotivasi setelah mengikuti acara ini dan selalu terngiang di kepala saya (hingga kini), seperti yang diucapkan Mas Vega "Maksimalkan dengan alat yang kita punya. Jangan sampai alat yang membatasi diri kita"


Jumat, 29 September 2017

Hangatnya Ngopi : Ngobrol Bareng Genpi

08.23 0 Comments
 Out of the box atau keluar dari zona nyaman bagi orang seperti saya memang tidak mudah dilakukan. Apalagi berkumpul dengan orang baru tanpa ditemani teman atau partner juga jarang bahkan hampir tidak pernah. Butuh proses untuk berpikir dua kali dan ujung-ujungnya selalu dikuasai perasaan malas. Setelah seharian bosan berselancar di media sosial karena jaringan internet di rumah tidak begitu bagus, saya terpaku membaca tweet akun @AsliSemarang. Tweet yang berisikan tentang diadakannya sebuah acara bersama blogger. Uhhh... Sedikit tertantang, karena saya juga baru belajar ngeblog dan beruntung bisa menambah ilmu.

Berangkat dengan modal nekad, saya tertarik mengikuti acara Ngobrol Bareng Genpi (Ngopi #1). Acara yang digelar kemarin sore (Rabu, 27/09/2017) di gedung di kawasan kota lama. Spiegel Bar & Bistro tepatnya. Acara yang baru pertama kali diadakan oleh Genpi Jateng dengan mengusung tema Travel Blogger, Dari Hobi Jadi Hoki. Tiga kata yang menjadi pusat perhatian (termasuk saya), Travel-Blogger-Hoki.

Selesai cek saldo rekening yang sangat cukup (alhamdulillah), segera menghubungi contact person. Pastinya sudah melewati satu hari satu malam untuk berpikir antara iya atau tidak ikut. Ehehehe.

Sore yang mendung dan sedikit bergerimis, saya sudah bersiap untuk mengikuti rangkaian acara. Acara ngopi kali ini dibuka oleh Ketua Genpi (Generasi Pesona Indonesia) Karesidenan Kedungsepur, Pak Sofyan. Beliau memaparkan bahwa GenPI Jateng meliputi Kota Semarang, Kendal, Ungaran, Demak, Purwodadi, Klaten, dan Sragen. Beliau imbuhkan juga bahwa acara ini baru pertama kali dilakukan dan acara selanjutnya dibulan Oktober sampai seterusnya dengan tema beragam. Jika kalian tertarik, bisa pantau kegiatannya di Twitter @GenPIJateng atau Instagram @genpijateng.

Sumber : Twitter @AsliSemarang

Acara selanjutnya yang kami tunggu tunggu. Speaker Ngopi sekaligus Travel Blogger kali ini, Dhave Dhanang. Seorang dosen Fakultas Biologi UKSW yang karyanya berlalu-lalang di berbagai media. Sebuah tulisan yang dikombinasikan dengan kata-kata ilmiah yang pastinya tidak jauh dari ilmu Biologi. Menarik dan menjadi ciri khas setiap tulisannya. Penasaran seperti apa, bisa kepo nih salahsatunya di www.kompasiana.com .

Seperti yang dikatakan Kak Dhave bahwa menulis itu butuh rasa. Sebisa mungkin selesai berkegiatan dan ingin dishare di blog segera kerjakan diwaktu itu juga. Feel yang dirasakan agar tidak hilang. Energi bisa tersalurkan ke sebuah tulisan.

Dari sekian poin yang dipresentasikan di depan dengan gayanya yang seperti mengikuti StandUp Comedy, saya setuju (pake banget) bahwa menulis atau isi blog merupakan ciri khas diri kita. Kenapa? Karena hal itu menjadi sumber kekuatan seorang blogger. Mudah diingat oleh pembaca. Walaupun kita sama dengan oranglain, sebisa mungkin menjadi lebih baik dari orang tersebut. Dan menjadi seorang Travel Blogger harus bisa, belajar, dan berlatih menulis, ngeblog, dan (paling penting) memotret.

Urusan jepret menjepret, Kak Dhave tidak sungkan mengatakan bahwa dia juga sering menggunakan hape sebagai alternatif dikala baterai kamera DSLR tidak bisa diajak kompromi.

Sumber foto : Instagram @genpijateng

Di akhir acara rasanya kurang lengkap kalo tidak mengabadikan moment bersama. Di sela sela foto bersama saya sempat mendengar dan sedikit nguping bahwa Kak Dhave berpesan ke salah satu peserta yang intinya jangan pernah malu untuk merendahkan diri dalam artian menyapa dulu sebelum disapa orang sekalipun ke anak-anak. Hal ini juga dilakukan ke saya ketika mengikuti akun Instagramnya @dhavers beberapa menit langsung difolbek. Aaaaaaakkkkk... Aku seneng beettt.

Terimakasih Yang Semesta, tidak sia-sia aku harus melewati kemacetan yang diwarnai gerimis walopun tangan lelah harus tarik-lepas-tarik-lepas gas. Terimakasih Kak Dhave untuk berbagi ilmunya.

Sabtu, 23 September 2017

Konsistensi Itu (Sangat) Penting

07.53 0 Comments
"Iiiihhh jajannya menggoda banget. Pengen nyobain. Tapi aku lagi diet."
"Hari ini aku makannya buah. Besok sayur. Kan lagi diet."

Yha. Hampir tiap hari (kalo kumpul ding) kata "diet" sliweran masuk kuping. Mungkin kalo dikumpulin udah jadi kamus yang dari bentuk penulisannya macam apa sampai berapa panjang pengucapannya. Dan... Sedikit annoying~ hmm.

Hal ini kejadian sama temen yang dari pertama kenal sampai kemarin ketemu, bahasannya soal diet. Diet model A sampai Z udah pernah dicobain. Usahanya buat mendapatkan badan impian sampai dibela-belain konsul ke dokter ternama, udah pernah. Jenis sayur, buah, minuman, cara masak juga udah pernah dilakuin. Olahraga dari yang termurah (bahkan gratis) sampai termahal buat harga anak kost, jangan tanya lagi - udah. Intinya semua udah pernah dicoba dan dilakukan. Mungkin kalian yang ingin mencoba jenis-jenis diet bisa tanya atau konsultasi dan bisa dibilang temenku ini pakarnya. HAHA.

Tapi sampai saat ini hasilnya masih tetap sama. Pernah lihat ada perubahan, dan itu hanya berlangsung beberapa waktu. Perubahan yang dimaksud, turun berat badan. Abis itu naik lagi berat badannya. Asupan makan jadi tidak terkontrol lagi.

Tidak ada yang melarang untuk melakukan diet. Itu hak kalian kalo memang ingin terlihat lebih aduhai dan sehat. Menjalani program diet akan kelihatan hasilnya kalo memang benar-benar konsisten. Butuh keimanan yang dijaga ketat demi tujuan awal. Sebentar loyo atau merasa capek (dan pengen udahan) disitulah peluang kemalasan. Semangat jadi kendur. Merasa bosan itu wajar. Tinggal menyikapinya seperti apa.

Semua hal di dunia ini butuh konsistensi. Apapun itu. Sangat butuh dan penting. Kalo memang impian yang sedari awal ingin diraih. Termasuk tantangan ngeblog ini (kalo masih dianggep yes). Menulis juga butuh konsistensi. Tujuan awal sekedar meringankan kerja otak. Syukur syukur bisa seterusnya. Iseng iseng berhadiah (rasanya masih jauuuuhhh banget).

Yang paling penting, pegang tujuan awal kita untuk melakukan sesuatu. Just it !